Jumat, 05 Januari 2018

Tafsir Al-Qur'an: Antara Teks dan Realitas

Keberadaan teks tidak dapat dipisahkan dari kondisi realitas. Sebuah teks sangat dipengaruhi oleh historisitas dan subyektifitas yang mengitarinya. Karakter dan corak suatu teks akan senantiasa menggambarkan dan merefleksikan struktur budaya dan alam pikiran tempat teks tersebut dibentuk. Demikian juga dengan al-Qur‟an, kondisi sosio-kultural masyarakat Arab atau kerangka kebudayaan bangsa Arab saat itu banyak berpengaruh pada pembentukan teks al-Qur‟an. Peristiwa pewahyuan sebagai titik awal lahirnya al-Qur‟an merupakan kata kunci untuk menyatakan bahwa ketika wahyu Ilahi tersebut diwahyukan kepada manusia dengan menggunakan bahasa kaum tertentu yaitu bahasa Arab, maka hal itu menandakan sifat kesejarahannya.

Setiap ayat yang turun tidak dipahami sebagai kalimat-kalimat yang tersendiri, melainkan berkaitan dengan kenyataan sehari-hari. Problem yang muncul lebih banyak disebabkan oleh benturan nilai-nilai yang dibawa al-Qur‟an dengan nilai-nilai warisan leluhur yang berakar kuat dan menyatu dengan kehidupan bangsa Arab. Keadaan atau konteks yang mengitari teks al-Qur‟an pada masa pewahyuan tidak akan sama persis dengan konteks pembaca al-Qur‟an saat ini. Al-Qur‟an diwahyukan di Jazirah Arab yang adat istiadatnya berbeda dengan masyarakat lain. Problema yang ada di sana tidak akan sama dengan generasi-generasi pasca pewahyuan juga tidak akan sama dengan kondisi masyarakat di luar Arab. Oleh karena itu, perhatian terhadap konteks inilah yang seharusnya dipertahankan dalam upaya pemaknaan dan pemahaman al- Qur‟an, sehingga sampai kapanpun al-Qur‟an senantiasa diposisikan sebagai petunjuk atau panduan kehidupan yang juga mampu menjawab problematika kehidupan dan menciptakan sebuah perubahan masyarakat. Melalui logika ini, sangat tidak layak mufassir masa kini masih berpegang teguh sepenuhnya dengan model penafsiran ratusan tahun yang lalu. 

Dari sisi informasi keilmuan, produk-produk tafsir masa lalu sangat kaya informasi, bahkan bisa dikatakan tanpa kehadiran teks-teks tafsir tersebut kaum muslimin akan menemui kesulitan dalam memahami masing-masing ayat lengkap dengan ragam qira’at, gramatikal, sabab al-nuzul, munasabah dan lain-lain. Namun, dari sisi pengamalan dari paparan teks tafsir tersebut perlu adanya pertimbangan-pertimbangan. Karena sangat dimungkinkan ada beberapa penjelasan dalam tafsir tersebut yang tidak layak diterapkan secara total dalam konteks kekinian. Inilah tugas mufassir dan penafsir saat ini untuk "membumikan tafsir al-Qur'an". Kalau kalian masih ingin mengjaki lebih dalam silahkam kunjungi http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/28160
Share:

2 komentar:

  1. Jadi, dengan perlunya pertimbangan dalam menerapkan hasil tafsiran.. dapat dikatakan setiap tafsiran blm tentu bisa diterapkan dalam realita ya mas?

    BalasHapus

Stat Counter

ClustrMaps

Diberdayakan oleh Blogger.

Total Tayangan Halaman