Aamir Ibnu Abdullah al-Jarrah atau lebih dikenal dengan nama Abu Ubaidah. Para sahabat Nabi memberikan gelar kepadanya dengan sebutan “Amin” yang artinya orang yang dapat dipercaya.
Abu Ubaidah termasuk golongan orang yang pertama kali memeluk Islam. Meskipun hinaan dan ancaman pembunuhan dari kaum Quraisy selalu menghampiri Abu Ubaidah, tapi ketaqwaannya kepada Allah malah semakin kuat. Hingga akhirnya dia harus menghadapi cobaan terberat dalam hidupnya, yakni saat Perang Badar.
Abu Ubaidah yang terkenal dengan sifatnya yang ramah dan pemalu adalah salah satu pasukan yang berada di barisan depan saat Perang Badar. Karena kegagahannya itu, tak ada satu pasukan Quraisy pun yang berani berhadapan dengannya secara langsung, kecuali satu orang yang senantiasa membuntutinya dan mengejarnya kemanapun dia pergi.
Orang tersebut tak lain adalah ayahnya sendiri, Abdullah bin Jarrah. Bahkan Abu Ubaidah sendiri enggan berhadapan dengan ayahnya di medan pertempuran, dan dia berusaha menghindari pertempuran dengan ayahnya. Akan tetapi atas izin Allah, pertempuran antara anak dan ayah ini tak dapat dielakkan lagi.
Abu Ubaidah pun tak punya pilihan lain selain menuntaskan pertempuran ini meskipun sangat berat. Dia pun langsung mengayunkan pedang hingga tepat mengenai kepala ayahnya dan langsung tergeletak ke tanah.
Kejadian ini menjadi cobaan berat yang harus dialami Abu Ubaidah. Tak ada sedikit pun terlintas di benaknya suatu saat nanti dia akan membunuh ayahnya sendiri. Namun Abu Ubaidah tahu kalau ini sudah jadi cobaan dari Allah yang harus dihadapinya. Oleh sebab itu, tingkat ketaqwaan Abu Ubaidah semakin meningkat di depan Allah.
Setelah kejadian itu, Allah menurunkan surat Al-Mujaadilah ayat 22, yang memiliki arti sebagai berikut: “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya
Sumber: http://wowmenariknya.com


Subhanallah, membunuh bukan karena hawa nafsu melainkan lillahi ta'ala. Religius sekali penulis ini dalam menerbitkan artikel hehe
BalasHapus