Kamis, 04 Januari 2018

Agama Asal Persia yang Mulai Berkembang di Indonesia


Agama Baha’i berasal dari daratan Persia (sekarang bernama Iran) sekitar abad ke-19. Orang yang mendirikan agama ini bernama Baha’u’llah. Ia menciptakan agama ini sebagai proses pendidikan semua umat manusia di seluruh dunia. Tuhan mengutus bawahannya dalam hal ini Baha’u’llah untuk menyebarkan kebaikan.

Agama ini akhirnya menyebar secara perlahan-lahan ke seluruh dunia. Mereka menekankan asas-asas keesaan Tuhan, kesatuan agama dan persatuan umat manusia

Tuhan dalam konsep Baha’i adalah sebuah kekuatan tertinggi yang tak akan bisa diketahui letak dan bentuknya. Tuhan Yang Esa menurut Baha’i selalu ada dan menjaga semua orang untuk selalu berbuat baik. Orang-orang yang memiliki iman dan ilmu yang tinggi akan tahu jika Tuhan itu tak bisa diwujudkan menjadi sesuatu yang jelas.

Baha’i banyak mengambil hukum agamanya dari Kitab-i-Aqdas. Dari kitab ini semua ajaran akan diberikan secara bertahap sesuai dengan keadaan masyarakat sekitar. Namun secara umum mereka melakukan sembahyang wajib, membaca kitab suci setiap hari, melarang seseorang berbuat jahat seperti bergunjing, berjudi, dan lainnya.

Agama ini juga melarang seseorang menggunakan obat terlarang serta alkohol. Hubungan badan di luar nikah juga dilarang termasuk praktik hubungan sesama jenis. Agama Baha’ i memandang tinggi pernikahan. Persatuan pria dan wanita adalah kegiatan sakral yang akan menyelaraskan dua individu yang berbeda

Rumah ibadah orang Baha’i bernama Mashriqul Adhkar yang memiliki arti tempat munculnya pujian untuk Tuhan. Di sini orang Baha’i juga bisa melakukan meditasi. Rumah ibadah Baha’i terbuka dan bisa digunakan oleh agama-agama lain di dunia.

Saat ini Baha’i telah tersebar di 247 negara di dunia termasuk Indonesia. Saat ini pemeluk Baha’i mencapai 6 juta jiwa yang sebagian besar berada di dataran Asia dan Afrika.

Pemeluk Baha’i di Indonesia tidaklah banyak. Kurang lebih 1.000 orang. Sekitar tahun 1962, Presiden Soekarno pernah melarang agama ini karena dianggap bertentangan dengan cita-cita sosialisme Indonesia. Namun pada saat Gus Dur jadi presiden aturan ini dicabut dan membiarkan Baha’i menjalankan ajarannya dengan baik di Indonesia.

Sumber: boombastis.com
Share:

2 komentar:

Stat Counter

ClustrMaps

Diberdayakan oleh Blogger.

Total Tayangan Halaman